MAKALAH
AKHLAK TASAWUF
Teori,
Aliran, Pendekatan, dan Hubungan Akhlak
Disusun
Oleh Kelompok 2
Nama :
Nama :
1. Muhammad
Santoso (1113051000172)
2. Endah
Dewi Cahyani (1113051000181)
3. Rachma
Maulidia (1113051000190)
Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun
Ajaran 2013-2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Kami menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna
perbaikan makalah ini selanjutnya, akan kami terima dengan senang hati.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Karena tanpa bantuan dari mereka makalah ini tak
akan dapat kami selesaikan dengan baik. Semoga informasi yang ada dalam makalah
ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
Jakarta, 13 September 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Akhlak merupakan salah satu khazanah
intelektuial muslim yang kehadirannya saat ini semakin dirasakan. Secara
historis, dan teologis akhlak tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan
hidup umat agar selamat dunia dan akhirat.
Khazanah dan pandangan di bidang akhlak
dan tasawuf itu kemudian menemukan momentum pengembangannya dalam sejarah, yang
antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawuf dan ulama di
bidang akhlak. Mereka tampil untuk memberi koreksi pada umat yang sudah mulai
miring ke arah yang salah. Mereka mencoba meluruskan, dan ternyata upaya mereka
disambut positif karena dirasakan manfaatnya.
Hasil penelitian para ulama islam
terhadap Al-Qur’an dan Hadits menunjukkan, bahwa hakikat agama islam itu adalah
akhlak. Pernyataan yang lain dikemukakan
Mawardi dalam kitabnya Adab Al-dunya Wa Al-din membuktikan dengan mengatakan
bahwa agama tanpa tasawuf akhlak tidak akan hidup. Ia juga mengatakan bahwa
seluruh ajaran Al-Qur’an dan Hadits pada ujungnya menghendaki perbaikan akhlak
dan mental spiritual.
Disadari bahwa masih banyak bidang
akhlak yang dapat dikemukakan namun, keterbatasan yang ada menyebabkan kajian
iini belum mencakup seluruhnya. Insya Allah, pada kali ini kita dapat mencoba
menjamah aspek akhlak dalam teori dan alirannya, juga pendekatan dan hubungan
akhlak dengan ilmu-ilmu lain.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Teori tentang Akhlak
Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang
membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.Tetapi
tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan
akhlak.Banyak perbuatan yang tidak dapat disebut perbuatan akhlaki, dan tidak
dapat dikatan baik atau buruk.Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar
kemauannya atau pilihannya seperti bernafas, berkedip, berbolak-baliknya hati
dan kaget ketika tiba-tiba terang sebelumnya gelap tidak lah disebut akhlak,
karna perbuatan tersebut dilakukan tanpa pilihan.[1]
Ilmu akhlak juga merupakan istilah dari
ilmu-ilmu perilaku (ulum as-suluk) sebagai “pengetahuan tentang apa yang baik
dan tidak baik”.[2]
Dalam Da’iratul Ma’arif ilmu akhlak
adalah ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga terisi
dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari
padanya.[3]
Dalam Mu’jam Al-Wahsit disebutkan bahwa
ilmu akhlak adalah ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai
yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau
buruk.[4]
Selain itu ada pula pendapat yang
mengatakan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu tentang tata krama.[5]
Sementara itu Imam Al-Ghazali (1059 -
1111M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.[6]
Lalu pendapat Ibn Miskawaih ( w. 421 H/
1030 M ) secara singkat mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang ternaman
dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangannya.[7]
Dengan demikian, akhlak merupakan ilmu
yang mempelajari tentang perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, tata krama,
gampang dan mudah tanpa memrlukan pemikiran dan pertimbangan.
B. Aliran-aliran yang terkandung dalam Akhlak Tasawuf.
Sejalan dengan perkembangan pemikiran
manusia, berkembang pula patokan yang digunakan orang dalam menentukan baik dan
buruk. Hal ini berhubungan erat dengan pandangan filsafat tentang manusia dan
ini tergantung pula dari metafisika pada umumnya.[8]
Aliran-aliran
filsafat yang mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk ini adalah aliran
adat-istiadat (sosialisme), hedonisme, intuisme (humanisme), utilitarianisme,
vitalisme, religiousisme, dan evolusisme.
1. Menurut Aliran adat istiadat (Sosialisme)
Menurut aliran ini baik
atau buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh
oleh masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dan
dipandang baik, dan orang yang menentang dan tidakmengikuti adat istiadat
dipandang buruk dan kalau perlu dihukum secara adat.
2. Menurut Aliran Hedonisme
Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat
yang berakqar pada pemikiran filsafat Yunani, khususnya pemikiran filsafat
Epicurus, yang selanjutnya dikembangkan oleh Cyrenics dan belakangan ditumbuh
kembangkan oleh Freud.[9]
Menurut paham ini banyak yang disebut
perbuatan yang baik adalh perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan dan
kepuasan nafsu biologis. Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua perbuatan
mengandung kelezatan, melainkan ada pula yang mendatangkan kepedihan, dan
apabila ia disuruh memilih manakah perbuatan yang harus dilakukan, maka yang
dilakukan adalah yang mendatangkan kelezatan
3. Menurut Aliran Intuisisme (Humanisme)
Intuisi adalah merupakan kekuatan batin
yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk dengan sekilas tanpa
melihat buah atau akibatnya.[10]
Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusai mempunyai kekuatan insting batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang.[11]
Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusai mempunyai kekuatan insting batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang.[11]
Menurut paham ini perbuatan yang baik
adalah perbuatan yang sesuai dengan penlaian yang diberikan oleh hati nurani
atau kekuatan batin yang ada pada dirinya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk adalah
perbuatan yang menurut hati nurani atau kekuatan batin dipandang buruk. Paham
ini selanjutnya dikenal dengan paham humanisme yang menjelaskan bahwa kodrat
manusia, yaitu kemanusiaanya yang cenderung kepada kebaikan. Dengan demikian
ukuran baik buruknya suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang
sesuai dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi keputusan
hati. [12]
4. Menurut Paham Utilitarianisme
Secara harfiah utilis berarti berguna.
Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna. Jika ukuran ini berlaku
bagi perorangan, disebut individual, dan jika berlaku bagi masyarakat dan
negara disebut sosial. Paham ini dapat menggunakan apa saja yang dianggap ada
gunanya. Tidak hanya berhubungan dengan materi melainkan juga dengan yang
bersifat rohani bisa diterima selama tidak merugikan orang lain.
5. Menurut Paham Vitalisme
Menurut paham ini yang baik adalah yang
mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang
kmenaklukkan orang lain yang lemah dianggap sebagai yang baik. Paham ini lebih
lanjut cenderung pada sikap binatang, dan berlaku hukum siapa yang kuat dan
menang itulah yang terbaik. Dalam paham ini kekuatan dan kekuasaan menjadi
lambang dan status sosial untuk dihormati. Ucapan, perbuatan dan ketetapan yang
dikeluarkannya menjadi pegangan bagi masyarakat.
6. Menurut Paham Religiosisme
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah
perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah
perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam paham ini keyakinan
teologis, yakni keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan penting, karena
tidak mungkin ornag mau berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan, jika yang
bersangkutan tidak beriman kepada-Nya.
7. Menurut Paham Evolusi
(Evolution)
Mereka yang mengikuti paham ini mengatakan bahwa
segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami evolusi, yaitu berkembang dari
apa adanya menujku kepada kesempurnaannya. Pendapat seperti ini bukan hanya
berlaku pada benda-benda, seperti binatang, manusia, dan tumbuh-tumbuhan,
tetapi juga berlaku pada benda yang tak dapat dilihat atau diraba oleh indera,
seperti akhlak dan moral.
C. Pendekatan dan Hubungan Akhlak dengan Ilmu-Ilmu Lainnya
1. Hubungan Ilmu Akhlak dengan ilmu Tasawuf
Para ahli tasawuf pada umumnya membagi
tasawuf kepada tiga bagian. Pertama, Tasauf Falsafi, Tasauf Akhlaki, dan
Tasawuf Amali. Ketiga macam tasawuf ini bertujuan sama, yaiitu menerkaytkan
diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan
menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Ketiga macam tasawuf ini juga
memiliki perbedaan, yaitu berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada
Tasauf Falsafi, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal
pikiran karena menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat
dikalangna para filosof. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari Takhalli
(mengosongkan diri dari akhlak buruk), Tahalli (menghiasinya dengan akhlak
terpuji), dan Tajalli (terbukanya dinding penghalang(hijab)) yang membatasi
manusia dengan Tuhan. Sedangkan, pada Tasawuf Amali pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan amaliayah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk
tarikat.
Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falsafi, akhlaki, atau amali seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa
2. Hubungan Ilmu Akhlak
dengan Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid mengandung arti sebagai ilmu yang
membahas tentang cara-cara mengEsakan Tuhan, sebagai salah satu sifat yang
terpenting diantara sifat-sifat Tuhan lainnya.[13]
Ilmu Tauhid juga disebut sebagai ilmu Ushuluddin, ilmu ‘aqa’id, dan ilmu kalam.
Dari berbagai istilah yang berkaitan dengan ilmu tauhid kita dapat memperoleh
kesan bahwa pada intinya ilmu tauhid berkaitan dengan upaya memahami dan
meyakini adanya Tuhan dengan segala sifat dan perbuatanNya. Dengan demikian,
ilmu Tauhid akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas dengan mengetahui
segi zat, sifat, dan perbuatan Tuhannya.
3. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Dilihat dari segi bidang garapannya, ilmu jiwa membahas tentang
gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui ilmu jiwa dapat
diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki seseorang. Dengan demikian ilmu
jiwa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara
menginterpretasikan perilaku yang tampak. Didalam al-qur’an, aspek batin yang
dimiliki manusia inidiungkap dalam istilah al-insan. Hasil study musa asy’arie
terhadap ayat-ayat al-qur’an menginformasikan, bahwa kata insane dipakai
Al-qur’an dalam kaitannya dengan berbagai kegiatan manusia, antara lain untuk
kegiatan belajar,penggunaan waktu, konsekuensi usaha perbuatan, dan keterkaitan
dengan moralitas dan akhlak.[14]
Hasil study tersebut adanya hubungan
erat antara ilmu akhlak dan ilmu jiwa. Dengan kata lain melalui bantuan
informasi yang diberikan ilmu jiwa, atau potensi kejiwaan yang diberikan
al-qur’an, maka secara teoritis ilmu akhlak dapat dibangun dengan kokoh.
4. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU FILSAFAT
Filsafat sebagaimana diketahui adalah
upaya berfikir mendalam, radikal, sampai ke akar-akarnya, universal dan
sistematik dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala sesuatu.
Dalam filsafat segala sesuatu dibahas untuk ditemukan hakikatnya.
Diantara obyek pemikiran filsafat yang
erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah manusia.para filosof seperti ibn sina
memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya
tentang jiwa. Ibn sina mengatakan bahwa
jiwa manusia merupakan salah satu unit yang tersendiri dan memiliki wujud terlepas
dari badan.
Pemikiran
filsafat tentang jiwa yang dikemukakan ibn sina tersebut emberi petunjuk bahwa
dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat
dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep ilmu akhlak.
5. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU PENDIDIKAN
Ilmu pendidikan ditujukan pada
tercapainya tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini dalam pandangan islam
banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Mohm. Athiyah
Al-habsyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekarti atau ilmu akhlakadalah jiwa
dari pendidikan islam, dan islamtelah menyimpulkan bahwa pendidikan budi
pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan islam.[15]
Pendidikan dalam pelaksanaannya memerlukan
aspek dukungan diantaranya dari keluarga, lingkangan sekolah, ataupun
lingkungan bergaul yang baik. Sehingga dapat terciptanya akhlak yang baik, yang
berarti pula tempat dilaksanakannya pendidikan akhlak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu Akhlak adalah Ilmu yang membahas
perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkan apakah perbuatan tersebut
tergolong baik atau buruk.
Manfaat mempelajari Ilmu Kahlak adalah agar
manusia mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan yang selanjutnya
ditetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk ke dalam perbuatan yang pantas
untuk dilakukan atau tidak.
Aliran-aliran yang termasuk kedalam
Ilmu AKhlak antar lain : Adat Istiadat (sosialisme), Hedonisme, Intuisisme,
Utilitilitarianisme, Vitalisme, Religiousisme, dan Evolusisme.
Semua aliran yang telah disebutkan diatas sangat mempengaruhi perkembangan akhlak suatu individu dan saling berkesinambungan.
Semua aliran yang telah disebutkan diatas sangat mempengaruhi perkembangan akhlak suatu individu dan saling berkesinambungan.
Pendekatan ilmu akhlak dengan ilmu
lainnya memiliki keterkaitan satu sama lain karena semua ilmu memiliki tujuan
yang sama yaitu membuat akhlak manusia menjadi lebih baik lagi.
B. Saran
.
Dengan mengetahui kaidah-kaidah ilmu
akhlak kita dapat melihat bangunan konsep akhlak dengan berbagai sentuhannya
dengan etika, moral dan susila yang berkembang di masyarakat. Selain itu,
pembahasan ini juga berkenenan untuk menilai seseorang baik atau buruk dan
memberikan keputusan
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ahmad Amin, Kitab Al-Akhlaq, (Mesir: Dar Al-Kutub
Al-Mishariyah, cat.III, t.t.), hlm.2-3.
[2] At-Tahawani, Kasyasyaf Isthilahat al-Funun, hlm.44.
[3] Abd.Hamid Yunus, op.cit. , hlm.436-437
[4] Ibrahim Anis, loc.cit. ,
[5] Husin Al-Habsyi, Kamus Al-Kautsar, (Surabaya: Assegaf,
t.t.), hlm.87
[6] Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin Al-Din, Jilid III,
(Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), hlm.56.
[7] Ibn Miskawai, Tahzib Al-Akhlak Wa Tathhir Al-A’raq,
(Mesir: Al-Mathba’ah Al-Mishriyah, 1934), cet. I, hlm.40.
[8] Poedjawijatna, etika filsafat tingkah laku, (Jakarta:
Bina aksara, 1982), cet.IV, hlm.43-44.
[9] Lihat Ahmad Amin log.cit. , hlm. 92; Poedjawijatna,
log.cit. , hlm.44.
[10] Asmaran As, op.cit. , hlm.30.
[11] Ahmad Amin, loc . cit. , hlm.105.
[12] Poetjawijatna, op.cit. , hlm.49.
[13] Poetjawijatna, op.cit. , hlm.49.
[14]
Musa Asya’arie, Manusia
Pembentuk Kebudayaan dalam Al-qur’an, (Yogyakarta: Lembaga Study Filsafat
Islam, 1992) cet. I, hlm.30
[15]
Mohm. Athiyah al-Abrasyi,
Dasar-dasar Pokok Pendidikan islam, (terj.) H.Bustami A, Ghani dan Djohar Bahry
LIS, dari judul asli al-Tarbiyah alIslamiyah (Jakarta: Bulan Bintang, 1974),
cet. II, hlm.15.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar