Senin, 25 November 2013

Akhlak Tasawuf


MAKALAH AKHLAK TASAWUF
Teori, Aliran, Pendekatan, dan Hubungan Akhlak









Disusun Oleh Kelompok 2
Nama :
1.   Muhammad Santoso  (1113051000172)
2.   Endah Dewi Cahyani (1113051000181)
3.   Rachma Maulidia       (1113051000190)
        
            

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun Ajaran 2013-2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan makalah ini selanjutnya, akan kami terima dengan senang hati.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Karena tanpa bantuan dari mereka makalah ini tak akan dapat kami selesaikan dengan baik. Semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Jakarta, 13 September 2013

Penulis










BAB I
PENDAHULUAN


Akhlak merupakan salah satu khazanah intelektuial muslim yang kehadirannya saat ini semakin dirasakan. Secara historis, dan teologis akhlak tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat.
Khazanah dan pandangan di bidang akhlak dan tasawuf itu kemudian menemukan momentum pengembangannya dalam sejarah, yang antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawuf dan ulama di bidang akhlak. Mereka tampil untuk memberi koreksi pada umat yang sudah mulai miring ke arah yang salah. Mereka mencoba meluruskan, dan ternyata upaya mereka disambut positif karena dirasakan manfaatnya.
Hasil penelitian para ulama islam terhadap Al-Qur’an dan Hadits menunjukkan, bahwa hakikat agama islam itu adalah akhlak.  Pernyataan yang lain dikemukakan Mawardi dalam kitabnya Adab Al-dunya Wa Al-din membuktikan dengan mengatakan bahwa agama tanpa tasawuf akhlak tidak akan hidup. Ia juga mengatakan bahwa seluruh ajaran Al-Qur’an dan Hadits pada ujungnya menghendaki perbaikan akhlak dan mental spiritual.

Disadari bahwa masih banyak bidang akhlak yang dapat dikemukakan namun, keterbatasan yang ada menyebabkan kajian iini belum mencakup seluruhnya. Insya Allah, pada kali ini kita dapat mencoba menjamah aspek akhlak dalam teori dan alirannya, juga pendekatan dan hubungan akhlak dengan ilmu-ilmu lain.







BAB II
PEMBAHASAN

A.  Teori tentang Akhlak

Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.Tetapi tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak.Banyak perbuatan yang tidak dapat disebut perbuatan akhlaki, dan tidak dapat dikatan baik atau buruk.Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar kemauannya atau pilihannya seperti bernafas, berkedip, berbolak-baliknya hati dan kaget ketika tiba-tiba terang sebelumnya gelap tidak lah disebut akhlak, karna perbuatan tersebut dilakukan tanpa pilihan.[1]

Ilmu akhlak juga merupakan istilah dari ilmu-ilmu perilaku (ulum as-suluk) sebagai “pengetahuan tentang apa yang baik dan tidak baik”.[2]

Dalam Da’iratul Ma’arif ilmu akhlak adalah ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari padanya.[3]

Dalam Mu’jam Al-Wahsit disebutkan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau buruk.[4]

Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu tentang tata krama.[5]

Sementara itu Imam Al-Ghazali (1059 - 1111M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[6]



Lalu pendapat Ibn Miskawaih ( w. 421 H/ 1030 M ) secara singkat mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang ternaman dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangannya.[7]
Dengan demikian, akhlak merupakan ilmu yang mempelajari tentang perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, tata krama, gampang dan mudah tanpa memrlukan pemikiran dan pertimbangan.





B.    Aliran-aliran yang terkandung dalam Akhlak Tasawuf.

Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, berkembang pula patokan yang digunakan orang dalam menentukan baik dan buruk. Hal ini berhubungan erat dengan pandangan filsafat tentang manusia dan ini tergantung pula dari metafisika pada umumnya.[8]
Aliran-aliran filsafat yang mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk ini adalah aliran adat-istiadat (sosialisme), hedonisme, intuisme (humanisme), utilitarianisme, vitalisme, religiousisme, dan evolusisme.

1.    Menurut Aliran adat istiadat (Sosialisme)

Menurut aliran ini baik atau buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dan dipandang baik, dan orang yang menentang dan tidakmengikuti adat istiadat dipandang buruk dan kalau perlu dihukum secara adat.

2.    Menurut Aliran Hedonisme

Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat yang berakqar pada pemikiran filsafat Yunani, khususnya pemikiran filsafat Epicurus, yang selanjutnya dikembangkan oleh Cyrenics dan belakangan ditumbuh kembangkan oleh Freud.[9]
Menurut paham ini banyak yang disebut perbuatan yang baik adalh perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan dan kepuasan nafsu biologis. Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mengandung kelezatan, melainkan ada pula yang mendatangkan kepedihan, dan apabila ia disuruh memilih manakah perbuatan yang harus dilakukan, maka yang dilakukan adalah yang mendatangkan kelezatan

3.     Menurut Aliran Intuisisme (Humanisme)

Intuisi adalah merupakan kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk dengan sekilas tanpa melihat buah atau akibatnya.[10]
Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusai mempunyai kekuatan insting batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang.[11]
Menurut paham ini perbuatan yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan penlaian yang diberikan oleh hati nurani atau kekuatan batin yang ada pada dirinya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk adalah perbuatan yang menurut hati nurani atau kekuatan batin dipandang buruk. Paham ini selanjutnya dikenal dengan paham humanisme yang menjelaskan bahwa kodrat manusia, yaitu kemanusiaanya yang cenderung kepada kebaikan. Dengan demikian ukuran baik buruknya suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi keputusan hati. [12]

4.    Menurut Paham Utilitarianisme

Secara harfiah utilis berarti berguna. Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna. Jika ukuran ini berlaku bagi perorangan, disebut individual, dan jika berlaku bagi masyarakat dan negara disebut sosial. Paham ini dapat menggunakan apa saja yang dianggap ada gunanya. Tidak hanya berhubungan dengan materi melainkan juga dengan yang bersifat rohani bisa diterima selama tidak merugikan orang lain.
      

5.    Menurut Paham Vitalisme

 Menurut paham ini yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang kmenaklukkan orang lain yang lemah dianggap sebagai yang baik. Paham ini lebih lanjut cenderung pada sikap binatang, dan berlaku hukum siapa yang kuat dan menang itulah yang terbaik. Dalam paham ini kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati. Ucapan, perbuatan dan ketetapan yang dikeluarkannya menjadi pegangan bagi masyarakat.

6.     Menurut Paham Religiosisme
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam paham ini keyakinan teologis, yakni keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan penting, karena tidak mungkin ornag mau berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan, jika yang bersangkutan tidak beriman kepada-Nya.


7.     Menurut Paham Evolusi (Evolution)
Mereka yang mengikuti paham ini mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami evolusi, yaitu berkembang dari apa adanya menujku kepada kesempurnaannya. Pendapat seperti ini bukan hanya berlaku pada benda-benda, seperti binatang, manusia, dan tumbuh-tumbuhan, tetapi juga berlaku pada benda yang tak dapat dilihat atau diraba oleh indera, seperti akhlak dan moral.




C.  Pendekatan dan Hubungan Akhlak dengan Ilmu-Ilmu Lainnya


1.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan ilmu Tasawuf

Para ahli tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama, Tasauf Falsafi, Tasauf Akhlaki, dan Tasawuf Amali. Ketiga macam tasawuf ini bertujuan sama, yaiitu menerkaytkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Ketiga macam tasawuf ini juga memiliki perbedaan, yaitu berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada Tasauf Falsafi, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran karena menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat dikalangna para filosof. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari Takhalli (mengosongkan diri dari akhlak buruk), Tahalli (menghiasinya dengan akhlak terpuji), dan Tajalli (terbukanya dinding penghalang(hijab)) yang membatasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan, pada Tasawuf Amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliayah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarikat.

Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falsafi, akhlaki, atau amali seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa

2.     Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid mengandung arti sebagai ilmu yang membahas tentang cara-cara mengEsakan Tuhan, sebagai salah satu sifat yang terpenting diantara sifat-sifat Tuhan lainnya.[13] Ilmu Tauhid juga disebut sebagai ilmu Ushuluddin, ilmu ‘aqa’id, dan ilmu kalam. Dari berbagai istilah yang berkaitan dengan ilmu tauhid kita dapat memperoleh kesan bahwa pada intinya ilmu tauhid berkaitan dengan upaya memahami dan meyakini adanya Tuhan dengan segala sifat dan perbuatanNya. Dengan demikian, ilmu Tauhid akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas dengan mengetahui segi zat, sifat, dan perbuatan Tuhannya.



3.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa

Dilihat dari segi bidang garapannya, ilmu jiwa membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui ilmu jiwa dapat diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki seseorang. Dengan demikian ilmu jiwa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara menginterpretasikan perilaku yang tampak. Didalam al-qur’an, aspek batin yang dimiliki manusia inidiungkap dalam istilah al-insan. Hasil study musa asy’arie terhadap ayat-ayat al-qur’an menginformasikan, bahwa kata insane dipakai Al-qur’an dalam kaitannya dengan berbagai kegiatan manusia, antara lain untuk kegiatan belajar,penggunaan waktu, konsekuensi usaha perbuatan, dan keterkaitan dengan moralitas dan akhlak.[14]
Hasil study tersebut adanya hubungan erat antara ilmu akhlak dan ilmu jiwa. Dengan kata lain melalui bantuan informasi yang diberikan ilmu jiwa, atau potensi kejiwaan yang diberikan al-qur’an, maka secara teoritis ilmu akhlak dapat dibangun dengan kokoh.

4.    HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU FILSAFAT

Filsafat sebagaimana diketahui adalah upaya berfikir mendalam, radikal, sampai ke akar-akarnya, universal dan sistematik dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala sesuatu. Dalam filsafat segala sesuatu dibahas untuk ditemukan hakikatnya.
Diantara obyek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah manusia.para filosof seperti ibn sina memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.  Ibn sina mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan salah satu unit yang tersendiri dan memiliki wujud terlepas dari badan.
Pemikiran filsafat tentang jiwa yang dikemukakan ibn sina tersebut emberi petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep ilmu akhlak.

5.    HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU PENDIDIKAN

Ilmu pendidikan ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini dalam pandangan islam banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Mohm. Athiyah Al-habsyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekarti atau ilmu akhlakadalah jiwa dari pendidikan islam, dan islamtelah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan islam.[15]
 Pendidikan dalam pelaksanaannya memerlukan aspek dukungan diantaranya dari keluarga, lingkangan sekolah, ataupun lingkungan bergaul yang baik. Sehingga dapat terciptanya akhlak yang baik, yang berarti pula tempat dilaksanakannya pendidikan akhlak.


BAB III
PENUTUP


A.  Kesimpulan


Ilmu Akhlak adalah Ilmu yang membahas perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkan apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk.
Manfaat mempelajari Ilmu Kahlak adalah agar manusia mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan yang selanjutnya ditetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk ke dalam perbuatan yang pantas untuk dilakukan atau tidak.
Aliran-aliran yang termasuk kedalam Ilmu AKhlak antar lain : Adat Istiadat (sosialisme), Hedonisme, Intuisisme, Utilitilitarianisme, Vitalisme, Religiousisme, dan Evolusisme.
Semua aliran yang telah disebutkan diatas sangat mempengaruhi perkembangan akhlak suatu individu dan saling berkesinambungan.
Pendekatan ilmu akhlak dengan ilmu lainnya memiliki keterkaitan satu sama lain karena semua ilmu memiliki tujuan yang sama yaitu membuat akhlak manusia menjadi lebih baik lagi.

B.    Saran

.
Dengan mengetahui kaidah-kaidah ilmu akhlak kita dapat melihat bangunan konsep akhlak dengan berbagai sentuhannya dengan etika, moral dan susila yang berkembang di masyarakat. Selain itu, pembahasan ini juga berkenenan untuk menilai seseorang baik atau buruk dan memberikan keputusan






DAFTAR PUSTAKA


*    Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996).
*    Hajjaj, Muhammad Fauqi, Tasawuf Islam dan Akhlak, (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2011).


[1] Ahmad Amin, Kitab Al-Akhlaq, (Mesir: Dar Al-Kutub Al-Mishariyah, cat.III, t.t.), hlm.2-3.
[2] At-Tahawani, Kasyasyaf Isthilahat al-Funun, hlm.44.
[3] Abd.Hamid Yunus, op.cit. , hlm.436-437
[4] Ibrahim Anis, loc.cit. ,
[5] Husin Al-Habsyi, Kamus Al-Kautsar, (Surabaya: Assegaf, t.t.), hlm.87
[6] Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin Al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), hlm.56.
[7] Ibn Miskawai, Tahzib Al-Akhlak Wa Tathhir Al-A’raq, (Mesir: Al-Mathba’ah Al-Mishriyah, 1934), cet. I, hlm.40.
[8] Poedjawijatna, etika filsafat tingkah laku, (Jakarta: Bina aksara, 1982), cet.IV, hlm.43-44.
[9] Lihat Ahmad Amin log.cit. , hlm. 92; Poedjawijatna, log.cit. , hlm.44.
[10] Asmaran As, op.cit. , hlm.30.
[11] Ahmad Amin, loc . cit. , hlm.105.
[12] Poetjawijatna, op.cit. , hlm.49.
[13] Poetjawijatna, op.cit. , hlm.49.
[14] Musa Asya’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-qur’an, (Yogyakarta: Lembaga Study Filsafat Islam, 1992) cet. I, hlm.30

[15] Mohm. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan islam, (terj.) H.Bustami A, Ghani dan Djohar Bahry LIS, dari judul asli al-Tarbiyah alIslamiyah (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), cet. II, hlm.15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar